Senin, 31 Oktober 2011

Ruangan-ruangan


Ini adalah hari-hari di mana matahari menyapa terlalu pagi, melalui teralis pembatas yang dipantulkan cermin ke dinding putih. Ia tak tertidur bagai putri, dalam mimpi berkelebat kecemasan yang mungkin baru berakhir ketika pantai dengan deburannya yang mematikan disusul keheningan samudra, menelan semua yang fana. Terbangunlah dia kearah cahaya. Entah sejak kapan, tak berani lagi menatap wajahnya dalam cermin terlalu lama, karena di sana ada sipir yang menuntut kejujuran sedangkan yang ia punya hanya sebongkah kebohongan yang terus merasuk, hingga mata urung melihat bahwa masih ada indah tersisa. Yang terlanjur hancur, dapatkah dibangun kembali?


Pertanyaan ini masih melayang-layang lepas dari talinya. Berayun ke sana kemari tanpa menemukan sebuah danau dan kemudian berenang bersama ubur-ubur bercahaya kekuningan.


Angin mengalir, semilir, setitik hujan lalu turun…


Kesedihan ada banyak dalam ruangan-ruangan yang berjumlah lebih dari delapan belas kamar. Perempuan-perempuan yang berada didalamnya punya berbagai masalah yang berbeda. Seperti suatu pagi, ia mendengar sebuah percakapan telepon dari kamar sebelah, penghuni kamar sebelah adalah istri dari seorang suami yang tidak ingin tinggal bersamanya. Ada nada kepasrahan ketika ia menjawab pertanyaan 'mengapa?'. Rasa tidak percaya diri, bergantung, jadi satu, dan menjadikannya menelan pahit sebuah kenyataan daripada beranjak untuk mencari hal lain walau kenyataan itu sangat menyedihkan, hal ini terdengar dari lirihnya ia menjawab pertanyaan temannya ditelepon.


Lalu apakah kebahagiaan itu?


Dia kembali memandangi langit-langit setelah selesai mendengarkan percakapan dari kamar seberang. Bukankah bahagia itu racun dan adiktif? Segera setelah mencicipinya kamu akan segera minta lagi, lagi dan lagi. Lalu ketika kamu tak kunjung mendapatkannya, kamu akan mengakhiri hidup…


Lalu disebelah kanan ruangan lainnya, ada seorang ibu tua, menjadi penghuni kamar. Dia pun teringat ibunya di rumah. Hatinya tak habis bertanya mengapa ia menyewa kamar di sini? Bukan tinggal di rumah, bersama suami atau abu suami jika telah ditinggalkan, atau suami baru sebagai teman menjalani hidup hingga akhir. Pernahkah kita berpikir mengapa manusia makhluk sosial? Karena kesendirian yang dikejar oleh Christopher McCandless, berakhir dengan merindukan keramaian.


Lalu ada dirinya, seorang gadis tanpa cermin. Ia tak punya keinginan terpendam untuk jadi orang lain. Ia hanya punya keinginan terpendam untuk tiada. Agak sulit hidup ketika mata dan otaknya terlampau aktif. Ia memikirkan lumba-lumba yang tiap bulan September berlari ketakutan dan akhirnya mati ditombak. Anjing yang dipukuli hingga mati. Sapi dan kambing yang selalu jadi kurban tiap tahun dan selalu melalui proses yang menyedihkan. Orang utan yang dipenggal kepalanya. Gajah yang dibakar hidup-hidup karena dianggap hama. Serakah itu jahat, dan manusia selalu serakah. Dan dia adalah salah satu manusia yang hidup…


Kini ia siap berangkat, lebih pagi dari biasa. Ia ingat langkahnya, gesekan antara kulit tangannya saat ia menuruni tangga dan berpegangan pada relnya, cara membuka pintu gerbang, menutupnya sepelan mungkin, melewati kucing-kucing – termasuk kucing dengan kumis hitler, kicauan burung yang terperangkap, menaiki tangga, lalu berhenti dan mengetuk sebuah pintu yang masih tertutup rapat. Tiap akan mengetuk, ia berdebar khawatir…


Apakah pintu itu benar-benar terbuka untuknya?




Kemanggisan, kos baru...

Rabu, 27 Juli 2011

Halo Ayah...

Halo Ayah, kita bertemu lagi tahun ini…


Butuh perjalanan selama kurang lebih empat jam untuk menuju tempatmu berada, sesuai keadaan lalu lintasnya saja. Kami berangkat menggunakan bis dari terminal Baranangsiang, Bogor, yang menuju Pelabuhan Ratu. Bis kosong sekali, hanya ada enam penumpang, tiga diantaranya adalah kami. Aduh, Ayah, bagaimana si supir setoran kalau macam ini? Namun bapak supir beserta kernetnya yang baik mengantar kami hingga sampai ke rumahmu dan disitulah kamu berada, bertengger di atas bukit, menghadap ke arah jalan raya yang dilalui berbagai macam bis antar kota maupun angkutan umum sekitaran.


Butuh mendaki sedikit untuk mengetuk rumahmu, oh lihat, banyak pepohonan tumbuh, kamu memberi kehidupan kepada bumi, kamu tahu itu Ayah? Dengan adanya pohon-pohon ini, kamu jadi tidak terlalu kepanasan bukan. Ini ada dua anakmu beserta Ibu, yap mantan istrimu datang, bawa bunga warna warni, cantik sekali. Semoga kamu, nenek dan adik nenek menyukainya.


Kami tidak lama-lama bertamu, seperti biasa, kami mengejar senja agar dapat kembali lagi ke Bogor. Kami pamit dan bertolak untuk mengunjungi pantai. Sudah nyaris sepuluh tahun lewat, sejak terakhir kita ke sini. Hotel masih berdiri di sana-sini, sawahnya masih sama, di depan sawah ada sebuah restoran. Perut keroncongan karena sudah masuk jam makan siang. Kami singgah untuk melepas lapar, menggantinya jadi kenyang.


Nasi, ikan, cumi, kangkung segera terhidang di meja, kami menyantapnya bertiga sambil memandangi laut. Ombak selalu besar di Pelabuhan Ratu, membuat orang-orang ketakutan diterjangnya. Hidangan masih tersisa namun perut kami sudah penuh nian, ikannya terlalu besar untuk kami santap bertiga, dan kami memutuskan untuk membawa pulang sisanya. Mataku tertuju pada bangunan di dekat sawah, mirip tempat sampah, ada seseorang mengais-ngais di sana, tadinya ku pikir ia adalah pemulung, namun setelah ku perhatikan lebih seksama, ia mengais sampah lalu memasukkannya ke mulutnya! Ayah, kamu tahu mataku rabun jauh, jadi kutanya adik,


“Dik, dia itu sedang makankah?”


Oh Ayah, adik terkejut, dan mungkin kamu juga – jika kamu berada di sana, menyaksikan seorang manusia makan dari tempat sampah. Kami bertiga tanpa kompromi dengan senang hati membagi makanan dengannya, dan ia dengan lahap memasukkan nasi ke mulutnya. Ayah, mulai hari itu, aku akan mensyukuri semua makanan yang tersaji dan berusaha makan tanpa meninggalkan sisa. Aku tidak akan cerewet mengenai rasa, karena aku telah melihat sendiri ada orang mengunyah SAMPAH.


Ayah, kami masih tetap mengejar senja. Aku berharap, bahwa orang tadi, yang ku duga mengalami gangguan jiwa, mendapatkan tempat yang lebih baik dan kepedulian diberikan makanan oleh orang sekitarnya malam ini, ataupun hingga esok, esok dan esooook seterusnya.


Ayah, bis kami melewati rumahmu lagi ketika menuju pulang. Aku dan adik melambaikan tangan ke arah bukit, kau mungkin tidak akan melihatnya karena kau tertidur dalam tanah. Jika kau masih hidup mungkin sekarang kita sedang bertengkar tentang Pram, ahmadiyah, bom atom, hadist-hadist yang perlu ditinjau ulang terutama tentang hukum pernikahan dan perempuan, hukum KDRT, kehamilan di luar nikah, lesbian, homo, baju yang seharusnya ku kenakan, pacarku, hukum ekonomi dan mungkin poligami.


Kematian adalah sebuah misteri Ayah, pada hal-hal tertentu, nyawa bisa lepas secara tiba-tiba. Yang menakutkan dari kematian adalah bukan rasa sakitnya, namun terlupakan bukan? Aku pastikan bahwa selalu ada ruang untuk mengingatmu apapun kenangannya, baik atau buruk, dan kamu masih hidup, di sini, dalam kromosom yang membentuk adanya diriku. Jadi selama aku hidup, kamu tidak akan pernah hilang…


Ayah, selamat tidur…




Slipi, setelah hujan besar sekali.

Rabu, 06 Juli 2011

Tidung Dalam Sekam


Tidung adalah satu dari beberapa kepulauan seribu yang tersebar di teluk Jakarta. Ketenarannya yang sekarang diawali oleh sebuah liputan dari sebuah biro perjalanan bernama ‘Jalan-jalan’ yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk artikel di majalah bulanan mereka. Hal itu terjadi kira-kira dua tahun lampau. Kini, semua mata penduduk ibukota, khususnya Jakarta, menoleh kepadanya ketika hari libur tiba. Mereka kabita ingin berlibur di pulau kecil tersebut, disambut oleh penduduk yang ramah, serta berenang diantara terumbu karang sambil dikelilingi ikan-ikan hias yang tadinya hanya bisa dilihat dalam akuarium raksasa di Ancol.


Macam memakai susuk, pesona Tidung menebarkan magnet bagi orang banyak, seperti pemandangan pagi ini (2/7) di Muara Angke, ratusan orang memenuhi pelabuhan yang menyediakan kapal menuju Tidung dengan harga yang cukup terjangkau, yaitu sekitar tiga puluh lima ribu rupiah. Saking padatnya, para pelancong berebut untuk mendapatkan tempat di kapal. Panitia perjalanan masing-masing grup akan sibuk bernegosiasi dengan Kapten kapal yang ternyata kadung banyak janji dengan banyak perusahaan, demi meraup untung yang lebih banyak lagi.

Perjalanan Muara Angke-Tidung dengan kapal biasanya membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Namun hari itu dibutuhkan waktu lebih banyak karena kapal tiba-tiba mogok dan mengeluarkan asap berbau solar. Kapten kapal terlihat panik, para abk sibuk memompa dan mencari masalah pada mesin kapal. Para penumpang kelihatan khawatir dan memegang erat pelampung yang sudah dibagikan sebelum berangkat. Tak lama kemudian, kapal dapat melaju lagi hingga sampai ke dermaga tidung 3 jam kemudian, meleset setengah jam dari biasanya.

Para pelancong tak sabar turun. Ada yang cepat-cepat karena ingin ke wc, ada yang muntah-muntah karena mabuk laut, ada yang memang sudah siap untuk melancong. Sebelum memulai petualangan yang biasa ditawarkan, pelancong dipersilahkan beristirahat di rumah penduduk yang biasa dijuluki “homestay”. Dulu, warga tidung mungkin belum berpikir untuk mempunyai lebih dari satu rumah, namun kini, rata-rata mereka mempunyai dua rumah, satu untuk keluarga dan satu lagi untuk disewakan. Seiring dengan permintaan, kini rumah-rumah yang disewa rata-rata memiliki pendingin ruangan di setiap kamarnya.

Menelusuri jalan menuju penginapan atau homestay, mengingatkan akan gang-gang kecil dekat rumah ketika saya kecil. Tidung yang sederhana, kini berkembang begitu pesat, di kanan kiri bergantung spanduk penyewaan alat snorkeling, serta berjejer-jejer penginapan dengan fasilitas yang disesuaikan dengan kegemaran orang kota; alas tidur dari kasur busa berpegas, televisi, serta pendingin ruangan.

Pulau Tidung dapat dicapai dengan sepeda dari ujung ke ujungnya, saya melihat ada bangunan Puskesmas yang kelihatannya masih baru, kantor pemerintahan daerah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, tempat pemakaman umum dan markas polres. Saya tidak menemukan bank, atm, toko handphone dan elektronik ataupun mini market di sana. Warga harus menyebrang lautan jika ingin menabung, menerima transfer, atau membeli bahan-bahan untuk berjualan seperti mie instant, makanan kecil; kacang, kuaci, dan sukro atau membeli handphone sebagai alat komunikasi dengan berbagai panitia perjalanan yang ingin melepas penat di pulau tersebut.

Uang berputar dengan cepat di Tidung dua tahun terakhir, perkembangannya terlampau pesat. Warga yang tadinya bercocok tanam, pencari ikan yang merantau hingga luar pulau, kini nyaris semuanya beralih profesi menjadi tur guide, pengusaha penyewaan alat snorkeling, membuka warung makan atau pemilik penginapan, contohnya Halim. Ia adalah tur guide rombongan saya untuk dua hari ini. Umurnya sekitar 25 tahun. Badannya atletis, mata agak menyipit dan berbicara dengan logat yang unik. Macam logat pulau luar Jawa.


Halim sebelumnya berprofesi sebagai pencari ikan bagi sebuah perusahaan. Tugasnya adalah menggiring ikan untuk masuk ke dalam jaring, jaring akan ia pegang di kedalaman 5 meter, kemudian ditariknya ke atas, hingga semua ikan terkepung dan ia pun muncul dipermukaan. Namun kini Halim berhenti melakukan pekerjaan itu dan memilih menetap di Tidung dan menjadi tur guide. Ia bertanggung jawab menjemput tamu di dermaga, mengantar mereka ber-snorkeling, membakarkan ikan jika tamu meminta barbeque pada malam hari, dan menyiapkan sepeda agar tamu dapat menuju jembatan cinta yang tersohor dari penginapan mereka masing-masing.

Halim masih bertalian saudara dengan orang yang sering ia panggil Babeh. Babeh adalah pemilik penginapan yang kami tempati, rumah Babeh, terletak diseberangnya. Rumah yang cukup besar namun gayanya masih sederhana. Babeh adalah sesepuh Tidung atau orang yang dituakan dan dihormati oleh para pemuda di sana.

Malam itu Tidung disambangi awan Commulus Nimbus yang mengantarkan hujan deras. Babeh menemani tamunya dan bercerita, tentang asal-usul nama jembatan cinta yang pemilihan namanya tak lebih dari sekedar untuk menarik perhatian pelancong, tentang asal usul penduduk Tidung yang ternyata berasal dari Kalimantan, tentang tanaman mangkok yang awalnya tumbuh menghiasi halaman tiap rumah, kini sudah dibabat berganti menjadi pagar tetap hingga memicu Babeh untuk berpikir bahwa Tidung butuh penghijauan kembali, kesadaran warganya bahwa Tidung punya potensi ekonomi dari pariwisata sehingga mereka menolak tiap investor yang datang untuk membeli tanah mereka.

“Lalu setelah dua tahun ini, apa yang berubah dari Tidung?”, tanya saya.

Seorang teman Halim ikut dalam obrolan santai ini, yang juga kerabat Babeh. Ia kemudian menjawab pertanyaan saya.

“Perubahan paling besar terjadi pada warga, terutama masalah sosial, persaingan bisinis yang tumbuh, bikin kita jadi ber blok-blok, kalau kumpul, kita gak pernah bener-bener nyatu, ya semua bakalan balik lagi ngumpul sama blok.nya masing-masing, blok barat sama barat, blok timur sama timur. Kalau misalnya blok barat ngadain selametan, blok timur gak pengen bantuin diriin tenda, dulu mah enggak kayak gitu…”, ujarnya.

Hujan masih mengguyur Tidung ketika saya masuk untuk tidur dan berlanjut dengan gerimis kecil keesokan paginya. Matahari pun diselimuti dengan kabut sehingga ia tidak menampakkan diri di balik awan seperti biasanya. Tukang bangunan sibuk membangun rumah disana-sini Tidung. Warung gorengan, nasi uduk, mi rebus, diserbu pelancong yang kelaparan mencari sarapan. Pagi itu semua orang menuju pantai dengan sepeda, bettor (becak motor), atau berjalan kaki, menikmati hari terakhir mereka sebelum pulang kembali ke kota.

Ombak menjilat-jilat pasir di tepian, sebagian mengantarkan tumpukan sampah plastik yang mengambang. Dalam dua tahun Tidung telah berubah banyak, dan berbagai permasalahan kini mengancam Tidung, mulai dari lingkungan hingga persaingan antar warga. Oh, Tidung berada dalam sekam…



*Slipi, dari lantai 20 diantara deadline aplikasi, Mimit, saya menepati janji saya untuk bertandang ke pulau itu, dan saya menulis ini untukmu…

Rabu, 22 Juni 2011

Selintas

Jika saya berpikir macam itu lagi, ini jadi sebuah beban baru yang berlapis-lapis. Beban saya terhadapmu kawan, yang menginginkan hidup, yang masih optimis hingga hari akhirmu. Saya merasa berdosa kepadamu karena keinginan ini masih sering selewat datang dalam benak saya. Kawan, jika nyawa bisa ditukar, saat itu saya akan berikan untuk kamu segera, karena duniamu terlalu riuh untuk ditinggalkan sementara dunia saya terlalu sepi untuk ditinggali...


Maafkan saya Kawan...




*pikiran yang sering selintas datang

Senin, 06 Juni 2011



Despicable Me



Sebuah opini dan resensi



Bagaimana jika menjadi seorang pencuri merupakan cita-cita yang membanggakan? Itulah kira-kira sebuah semboyan yang digusung oleh film animasi produksi Universal Pictures, Despicable Me. Ke-eksistensian seorang pencuri di nilai dari seberapa besar ia dapat mencuri bangunan bersejarah, misalnya mencuri Patung Liberty, Menara Eifel, atau mungkin jika terjadi di Jakarta, Monas pun dapat ikut raib, walau Monas hanyalah simbol dan sebenarnya merupakan hiburan rakyat golongan bawah yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan murah, karena golongan atas hanya akan menangis jika si pencuri berhasil mengambil Grand Indonesia atau mungkin si pulau belanja kecil, Singapura.


Despicable Me mengandung banyak pemaknaan secara harfiah maupun metafora terhadap hal-hal nyata seperti ; hubungan pekerja dengan ‘bos’ yang lebih digambarkan pada karakter ‘pemujaan’, pembiayaan bank, regenerasi kepada orang yang lebih produktif, persaingan antara ilmuwan atau dalam hal ini antara ‘pencuri’, kolusi, nepotisme dan sikap manusia yang tidak absolut, berubah.


Namun menurut adik saya, seorang pecinta film animasi, film ini gagal jika dimasukkan dalam kategori komedi. Karena gaya humor yang ditawarkan bersifat setengah-setengah atau istilah anak muda sekarang adalah ‘garing’.




****




Pagi itu, Gru, seorang pencuri, menjalani kehidupannya seperti biasa, membeli kopi serta kue untuk sarapan, ia bersiap menjalani kehidupan dengan santai hingga sebuah berita menghampirinya, sebuah piramida di Mesir telah dicuri! Ia memang telah mencuri, namun hanya hal-hal kecil yang tidak sebegitunya diperhitungkan. Hukumnya, jika seseorang berhasil mencuri sesuatu yang hebat, maka ia harus bisa mencuri hal lain yang lebih hebat lagi.


Maka itu ia mengumpulkan para pekerjanya untuk rapat besar. Pekerjanya bukan manusia, namun sejenis makhluk kecil dengan badan mirip kapsul, berwarna serupa bola tenis. Walau sebegitu aneh rupanya, nama mereka tetap normal, John, Kevin, serupa nama manusia pada umumnya. Kehadiran karakter ini kurang lebih membantu untuk menceriakan cerita dengan humor ‘konyol’. Mereka selalu menertawakan segala sesuatu yang sederhana, mirip sekali dengan orang yang sedang mabuk ganja.


Untuk pencurian selanjutnya, mereka mempunyai rencana yang sangat besar, yaitu mencuri Bulan. Yap, si benda yang memantulkan sinar matahari pada malan hari, satelit bumi, BULAN.


Untuk mencuri bulan, ia memerlukan alat-alat yang memadai untuk rencana tersebut yaitu sebuah alat ‘pengecil’ dan berharap mendapat pinjaman dari bank untuk mewujudkannya. Namun bank sudah menginvestasikan terlalu banyak uang untuk Gru dan tidak mendapat keuntungan yang begitu berarti. Mereka berharap dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang sesedikit mungkin (hmm…pernah dengar hukum ekonomi ini?).


Entah bagaimana akhirnya Gru menemukan seseorang telah menciptakan alat ‘pengecil’ tersebut. Mereka pun mencuri alat tersebut dari sebuah pulau yang berada di Asia Tenggara, bagi saya terlihat mirip seperti Jepang. Jika diperhatikan lebih seksama, cara kerja alat ini serupa dengan ‘senter pengecil’ buatan Doraemon yang telah akrab bagi anak-anak di tahun 1990-an yang gemar menyaksikan film serinya setiap minggu.


Namun sialnya Gru, alat itu segera dicuri lagi oleh Vector, seorang pencuri yang berhasil mencuri piramida. Pada tahap inilah Gru mencari cara agar dapat masuk ke kediaman Vector dan mencuri kembali alat pengecil tersebut. Setelah berbagai usaha, Gru menemukan sebuah jalan keluar dari tiga orang anak yatim piatu yang dipersilahkan masuk oleh Vector karena menjual kue yang disukainya.


Dari sana terbit sebuah ide. Gru segera mengadopsi anak-anak tersebut dari yatim piatu untuk dilibatkan dalam aksi pencurian tersebut. Anak-anak ini hanyalah anak polos dengan kehausan kasih sayang dari orang tua yang mereka tak pernah mereka punya. Dalam film, keadaan panti asuhan digambarkan sangat tidak menyenangkan, penuh siksaan mental dan hinaan, dalam kehidupan nyata saya kira tidak banyak berbeda, begitu kiranya yang saya tahu dari sebuah laporan yang ditulis Truman Capote berjudul ‘In Cold Blood’.


Margo, Edith dan Agnes resmi diadopsi oleh Gru tanpa proses yang begitu berbelit-belit. Gru begitu dingin pada anak-anak tersebut pada awalnya, hal ini dikarenakan masa lalu Gru sebagai anak tunggal yang haus kasih sayang dan tidak pernah memperoleh sedkitpun penghargaan. Namun kehadiran anak-anak akhirnya membuat kehidupan Gru semakin berwarna dengan keluguan dan manjanya anak-anak kecil. Gru berubah menjadi mencintai anak-anak tersebut.

Mencuri bulan tak lagi jadi begitu penting bagi ketika anak-anak tersebut dalam bahaya. Gru yang semula membuang si anak-anak, akhirnya memperjuangkan mereka kembali. Bulan kembali berada di tempatnya seperti semula, everybody is happy.


Entah mengapa menurut saya, hal itu justru sangat amat munafik, karena yang terjadi di dunia nyata adalah hal yang lebih-lebih pelik lagi, ya kejiwaan yang terguncang, krisis kepercayaan, namun memang kata-kata ‘happily ever after’ mendominasi tiap dongeng mulai dari Cinderella hingga Despicable Me bahkan Shrek.


Nah menurutmu?





*minggu sore, di kos tanpa penghuni, sarapan dan makan siang roti tawar agar tidak kadaluarsa esok hari. Hidup pelik, namun beginilah hidup bukan?

Rabu, 01 Juni 2011

Ngompol Lagi

Perjalanan malam itu seharusnya mulus, tanpa gangguan, namun hembusan AC yang meracuni badan dengan hawa dingin membuat kandung kemih terlambat menyadari bahwa dirinya telah penuh. Untuk kesekian kalinya saya harus ngompol akibat jalanan Jakarta yang macet laur biasa. Selain juga karena mungkin terjadi kesalahan pada organ ureter pada tubuh ini.

Ngompol ketika dewasa agak merepotkan, karena Anda akan dihadapkan pada norma-norma yang ketika kecil dulu bisa dimaklumi begitu saja. Seorang anak kecil yang ngompol, akan bebas melenggang begitu saja tanpa sehelai kain pun menutupi kulitnya yang terbuka bebas karena celana sudah basah, tentu akan menimbulkan penyakit jika dipakai kembali. Tentu hal ini tidak dapat dilakukan orang dewasa yang waras, yang dikungkung oleh sabuk sosial untuk menjaga aurat dengan berpakaian dalam, berpakaian luar yang menutup hingga bagian tertenu yang dianggap tidak menimbulkan syahwat.

Mirip dengan kejadian malam itu, saya yang sudah dewasa, untuk kesekian kalinya ngompol karena tidak tersedianya fasilitas WC umum pada halte-halte Trans Jakarta yang membuktikan bahwa fasilitas untuk perempuan hamil, orang tua atau orang dengan kekurangan fisik di nomor duakan. Mengeluarkan urine adalah hal yang alamiah, ini mirip halnya dengan mengeluarkan racun dalam tubuh, namun karena jadwal yang berbeda-beda, fasilitas umum macam Trans Jakarta menganggap semua penumpang sama kuatnya dengan penumpang kebanyakan dapat menahan keluarnya urine dalam 3-4 jam perjalanan.

Begitukah seleksi alam?

Jadi, jika saya yang penuh dengan kekurangan masalah jadwal kencing tak tertahankan harus mengatasi masalah kesehatan saya dahulu baru mungkin dapat berbaur dengan kehidupan orang umum pada kebanyakan. Jadi ini sepenuhnya adalah MASALAH KANTONG URINE SAYA.

Lalu bagaimana saya harus tahu ada masalah pada kantong urine atau tidak. Dengan pergi ke dokter, melakukan segala tes kesehatan yang menakutkan, belum lagi dibayang-bayangi vonis mendadak atas sebuah penyakit serius yang hanya bisa diobati dengan biaya mahal dan mungkin saja sulit untuk disembuhkan, dan ketika di vonis kamu akan dipojokkan untuk sebuah tindakan kesehatan disodorkan formulir bahwa kamu bersedia dibawa ke meja operasi, dipreteli bagain-bagian tubuhnya yang mempunyai resiko besar hilangnya nyawa karena kelalaian yang mungkin saja terjadi. Dan kamu bisa pergi begitu saja saat itu, atau beberapa minggu setelahnya karena mengalami komplikasi kronis.

O.K.E

Katakan tidak untuk operasi meski mereka bilang dalam 6 bulan lagi saya tentu tidak akan dapat bertahan, katakan tidak untuk sebuah ketakutan-ketakutan pasti akan sebuah kematian. Katakan tidak ketika mereka menyodorkan sebuah formulir yang menjanjikan bahwa mereka akan merawatmu (selama kamu masih berduit) dan berusaha sebaik-baiknya. Saya punya hak atas tubuh ini, ini tubuh saya.

Tentu, kejadian ngompol lagi akan berlanjut tidak hanya sampai disini, saya hanya perlu selalu bawa baju ganti untuk mengantisipasi kejadian malam tersebut, karena membeli pakaian mendadak adalah sebuah kemewahan yang tak perlu, dan bisa saya hindari sebaik-baiknya karena saya mengenali bahwa si kantong kemih, gampang sekali penuh, terutama ketika hawa dingin terlampau menusuk dan cita-cita minum satu liter setiap hari.

:)



dari lantai 20, dengan semua orang mengetahui bahwa saya mengompol dengan bebasnya, saya suka kejujuran yang melegakan...

Sabtu, 16 April 2011

Timpang

Minggu kemarin saya pergi ke Tanah Abang. Sebuah pasar dekat stasiun kereta api Tanah Abang, Jakata Pusat. Pasar ini sudah eksis bahkan semenjak saya masih kecil. Suasana pasar ramai, karena minggu ini adalah tanggal muda. Baju muslim, peralatan sholat, pakaian wanita, sepatu sendal dan kebaya terlihat dijajakan dan pengunjung pun berhamburan. Kebanyakan pengunjung berasal dari kelas menengah dan bawah yang sudah berkeluarga atau mempunyai anak. Tidak jarang saya akan melihat anak-anak tersebut menangis karena kepanasan, terjepit atau bahkan sesak karena pasar makin siang makin dibludaki orang-orang. Oh memilukan melihat Ibu memarahi anaknya yang rewel sementara ia sedang memilih pakaian, sulitnya keadaan tersebut.


Kemudian menjelang sore hari, saya harus menyambangi sebuah mall besar dibilangan Jakarta Barat, Mall Taman Anggrek. Seperti biasa, ciri khas mall-mall besar di Jakarta, tempat ini juga dilengkapi dengan pendingin yang menurut saya sengaja ngajak berantem karena suhunya terlalu dingin, tempat makan mahal, jajanan yang sehat, serta tempat berlalu lalang yang cukup lenggang, toko-toko yang tertata apik, bersih. Sebagian besar pengunjung berasal dari keturunan Tionghoa dari golongan kelas A. Keadaan yang jauh timpang jika saya bandingkan dengan tadi siang di Tanah Abang. Anak-anak yang datang ke Taman Anggrek nyaris semuanya telihat bahagia karena dimanja dengan keadaan yang mudah, makanan yang bersih, baju yang bagus, pengasuh yang senantiasa menjaga anak sementara si Ibu berbelanja, suhu yang tidak meresahkan, dan untuk pulang pun anak-anak ini tinggal berdiri untuk dijemput supir.


Oh Gaia,

Apakah aku harus membesarkanmu dalam ketimpangan ini? Dan membiarkan otakmu yang baru akan berkembang nantinya menyerap semua kejadian ini dan menganggapnya hanya sebagai seleksi alam? Tidak, tidak, dan aku takut meninggalkanmu sendirian jika waktuku berlalu begitu cepat. Aku ingin kamu percaya bahwa hal ini, semua rentangan kelas yang akan kamu lihat jika kamu duduk dibangku kuliah dengan jurusan advertising dan merasa akrab dengan kata SES ABC, ku harap kamu tidak sebodoh aku dulu, melewatinya tanpa banyak bertanya. Bertanyalah Gaia dan jangan pernah percaya jalan buntu dari sebuah kebenaran.


Manusia itu sama Gaia. Lihatlah agama tidak melakukan apapun atas kelas yang sengaja diciptakan manusia. Lalu apakah kamu akan diam saja Gaia? Setidaknya berteriaklah ketika kereta listrik lewat. Kamu bukan robot nak, yang diprogram untuk terus senang dan bahagia dan sabar dalam keadaan apapun. Itu bohong.


Kamu hanya bisa berpegang pada sesuatu dalam hatimu. Cinta. Dengan cinta kamu bisa menggerakan semua, dengan cinta kamu percaya, dengan cinta kamu bisa melakukan apapun, dengan cinta kamu bisa mempunyai kekuatan melebihi amarah, dengan cinta kamu berpikir, rasakanlah nak, bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan hidup layak, tanpa sebuah kebohongan yang diciptakan atas nama kelas dan hal itu menjadi identitas kualitas.

Mungkin terdengar sedikit utopia.

Tapi ketika kamu merasakan sesuatu berdetak, memanggil, kamu akan tahu itu apa. Nah, nak...selamat tidur...