Korban kedua untuk lagu ulang tahun kali ini adalah adik sendiri. Kalau tidak salah lagu ini dibuat 2009. Si adik sedang mulai manggung saat itu, dengan band jepangnya, untung ada pasar senen yang menyediakan segala kebutuhan baju yang aneh bin ajaib tersebut. Saya beli hadiahnya sembari menengok Nata dan setelahnya ketinggalan dompet dikosan, ahahahah menyusahkan jadinya.
Dedek ini lagunya!
Hari ini kamis 25 Juni,
adikku sedang bertambah umur,
hadiah sudah diberi sejak kemarin,
semoga ia akan suka,
kita bersaudara memang sudah lama,
seringnya kita berantem aja,
tapi jadi akur kalo lagi belanja,
kenapa? saya juga gak tau
*
sekarang umurnya dua puluh,
paling suka pake 'celak' di mata...
#
tapi dedek selamat ulang tahun,
kamu tambah tua dari kemarin,
semoga sehat selalu dan bahagia,
bijaksana dan rajin menabung,
dia mulai tahu tentang barang murah,
belajar tentu dari kakaknya,
belanja tidak harus selalu di mall,
di pasar tentu juga bisa...
back to *, #2x
hihih hahaha
Adik masih dengan band jepangnya, dia vokalis, tiap hari bisa bikin anak bayi nangis karena latihan nyanyi malem-malem, mirip kakaknya kalo nyanyi gak tau waktu. Salah saya kasih contoh yang kurang baik...
Sementara Nata, sudah pindah dari dekat Senen, ia sekarang mungkin menemukan ritme yang pas di sebuah surat kabar harian, sempat main ke kosnya beberapa kali, menganggunya saat patah hati, maaf yah Nata jika aku mengatakan hal yang kurang pantas...menyesal sekali mengingatnya...
What has been told cannot be lick anymore, itu jadi dosa besar seumur hidup, maka itu aku terus minta maaf seumur hidupku padamu.
Jumat, 31 Desember 2010
Kamis, 30 Desember 2010
LAGU ULTAH
Tiba-tiba ada ide begini, membuat lagu ulang tahun untuk menggantikan kartu ucapan. Orang pertama dan pelopor dan pemicu adalah Nita. Lirik lagu ini dibuat kira-kira tahun 2007. Agak sulit menjelaskan iramanya macam apa, mungkin nanti bisa di upload juga ke blog kalau bisa...
Nita! Ini Lagunya!!
Hari ini Jumat tanggal tiga Juli,
sahabatku sudah bertambah umur,
hadiah sudah disiapkan olehku,
semoga ia akan suka,
Kita berteman sudah agak lama,
trima kasih ucapku padamu,
selalu peka dikala aku BT,
Bad Mood atau Bau Tai
*
Saya tahu kamu lagi pusing,
mikirin kripsi enggak kelar-kelar
#
Tapi Nita selamat ulang tahun,
kamu tambah tua dari kemarin,
semoga sehat selalu dan bahagia,
si bambang semoga cepat sembuh...
AMIN...
Lewat kamu juga aku kenal Deno,
yang sekarang jadi kekasihku,
kenal dita, evi, ceceu, opik,
dito, aal, jawa, jjong, gun-gun,
uri, metri de ka kaaaa...
back to *, #2x
si bambang, semoga cepat sem bu u u uh a a miiin...
hehehehehe
- Sekarang Nita sedang berjuang agar tulangnya menyambung dengan baik lagi setelah kejadian dua bulan lalu, dirinya jatuh dari ketinggian empat meter. Ayo kuat Nita, kamu tentu bisa berdiri lagi, ini cuma kaki yang patah, sayapmu masih ada :)
salam sayang...
Nita! Ini Lagunya!!
Hari ini Jumat tanggal tiga Juli,
sahabatku sudah bertambah umur,
hadiah sudah disiapkan olehku,
semoga ia akan suka,
Kita berteman sudah agak lama,
trima kasih ucapku padamu,
selalu peka dikala aku BT,
Bad Mood atau Bau Tai
*
Saya tahu kamu lagi pusing,
mikirin kripsi enggak kelar-kelar
#
Tapi Nita selamat ulang tahun,
kamu tambah tua dari kemarin,
semoga sehat selalu dan bahagia,
si bambang semoga cepat sembuh...
AMIN...
Lewat kamu juga aku kenal Deno,
yang sekarang jadi kekasihku,
kenal dita, evi, ceceu, opik,
dito, aal, jawa, jjong, gun-gun,
uri, metri de ka kaaaa...
back to *, #2x
si bambang, semoga cepat sem bu u u uh a a miiin...
hehehehehe
- Sekarang Nita sedang berjuang agar tulangnya menyambung dengan baik lagi setelah kejadian dua bulan lalu, dirinya jatuh dari ketinggian empat meter. Ayo kuat Nita, kamu tentu bisa berdiri lagi, ini cuma kaki yang patah, sayapmu masih ada :)
salam sayang...
Rabu, 06 Oktober 2010
Kata-kata terakhir
Kata-kata terakhir mereka adalah yang bisa saya ingat dalam kepala saya yang kecil (dalam arti harafiah). Kadang saya merasa otak yang menyimpan memori yang hilang dan timbul ini adalah dalam cara yang sangat misterius. Kadang muncul justru sebuah kenangan yang kamu tidak duga kenapa hal itu justru yang muncul dalam seluk beluk neuron yang rumit?
Thomas : "Jangan mengeluh terus tam, lu mengeluh terus..."
Nah setelah kelulusan itu, saya rasa kamu menghilang Tom, kemana kamu kawan?
Hendi : "Jangan lupa di forward ke gua ya tam..."
Si gendut Dora yang dengan baik memberi saya tumpangan semasa kuliah dan membantu untuk saling mendukung ketika sidang dilaksanakan. Biasanya kami ngobrol di ym, tapi sekarang sudah jarang sekali.
Ella : masih berkomunikasi hingga sekarang lewat Ym. Terakhir kami ngobrol masalah mekanisme media agency tempatnya bekerja yang tidak kasih uang lembur ketika jam kerjanya diperpanjang.
Hera : "Gua punya cowok baru sekarang tam, cowok gua yang ini baik..."
terakhir saya bertemu dengannya adalah dikosannya didaerah kuningan dan kami sama-sama menuju sebuah pernikahan teman. Dulu kami dekat, namun kini rupanya pekerjaan dan kesibukan sudah membuat dunianya masing-masing.
Ferry : "Tetep menurut gue film paling bagus itu adalah 2 fast 2 furious"
Quote yang menarik jika kamu bertanya masalah film dengan si Ferry. Terimakasih sudah boleh minta contoh tugas akhir Fer...
Kharisma : "Gue sekarang jadi guru mi, disebuah sekolah internasional"
Saya melihat keadaannya tepat kira-kira 2 tahun lalu, dia sudah baik-baik saja dan semoga dia tetap begitu. Terima kasih sudah pinjamin komputer dan kamar kamu agar saya bisa edit flash disana ketika komputer butut saya kena virus.
Inyo : "Apa kabar Tam? Gua dibandung"
Terakhir saya dengar dia bekerja disebuah distro yang cukup terkenal di Bandung. Yang paling saya ingat dari Inyo adalah quote yang luar biasa ketika melihat muda mudi sekarang memakai celana kedodoran hingga boxernya kelihatan dan memakai topi yang sengaja dimiringkan.
"Gua bayar lu ceban kalo ada yang lewat dan lu berani untuk benerin celana serta topinya sambil bilang 'pake baju yang bener!'"
Saya gak bisa lupa hal itu.
Adi : "Eh kamu yang suka fashion show di Chitos ya?"
Padahal saat itu dia pasti asal saja bilang begitu, saya sering gak mandi ke kampus hingga penampilan saya agak dekil.
Syarif : "Yaudah ambil tuh helm, bareng gua aja ke kampus"
Katanya ketika melihat saya menunggu bis dipinggir jalan dan menyarankan saya ambil helm dari motor orang yang parkir. Orang gila. Dan dia menikah tanpa mengundang saya minggu lalu dasar Syarif.
Tiwi : "tam-tam, temenin gua yah disini, jangan pulang dulu"
Sekarang tiwi sudah menikah dan mungkin sudah melahirkan.
Rio : "tam ada kerjaan buat gua?"
terkahir di ym.
Leo : "tam, ini tami kan?mi punya kenalan media gak?"
Telepon dari Leo masuk sekitar 2 minggu lalu, dia sedang mengerjakan project acara musik untuk event organizernya.
Noval : saya mengenal Noval sebagai orang yang bersemangat dan penuh konsep yang kadang-kadang rumit, namun Noval adalah Noval.
Emon : "Hati-hati tam..."
Itu katanya ketika dia menginjinkan saya nebeng motornya sampai UKI setelah pernikahan kawan lama kami, Ivan.
Yudha : Ah saya lupa kata-kata Yudha yang terakhir, saya cuma ingat suaranya yang berat.
Enrico : "Ayo kita bikin agama baru!!"
Begitu selalu kelakarnya, apa yang saya ingat dari Enrico? rambut keriting gondrongnya.
Zaki : Ada Enrico ada Zaki. Terakhir kami berbincang tentang teman kampus kami, bergosip seru.
Dika : "Gitu lu tam ya, nyela gua mulu, awas lu gua nanti jadi kaya, nanti lu suka sama gua!"
Dan saya jawab : "Mau lu kaya-nya sekarang kek gua juga gak suka sama lu"
Bercanda tentunya kami ini, sedang berkelakar...
Yonne : "Tamtam makan eskrim aja kalau mau gemuk, ini gua buktinya..."
Tito : Saya lupa kata-kata Tito, tapi dia senang sekali ganggu saya dengan menarik rambut kuncir kuda saya dulu. Oh, Tito, walau badannya tinggi besar dia suka musik yang lembut dan romantis.
Ah, siapa lagi yah, otak dalam kepala yang kecil ini mulai berasap berusaha mengingat meraih setiap tetesannya yang saya takutkan menghilang. Tidak ada orang yang mau dilupakan tentunya, bukan? Tentu, saya juga tidak. Lalu, teman-teman dimana kalian sekarang? Semoga kalian baik-baik saja. Malu mengatakannya, tapi saya rindu kalian.
Thomas : "Jangan mengeluh terus tam, lu mengeluh terus..."
Nah setelah kelulusan itu, saya rasa kamu menghilang Tom, kemana kamu kawan?
Hendi : "Jangan lupa di forward ke gua ya tam..."
Si gendut Dora yang dengan baik memberi saya tumpangan semasa kuliah dan membantu untuk saling mendukung ketika sidang dilaksanakan. Biasanya kami ngobrol di ym, tapi sekarang sudah jarang sekali.
Ella : masih berkomunikasi hingga sekarang lewat Ym. Terakhir kami ngobrol masalah mekanisme media agency tempatnya bekerja yang tidak kasih uang lembur ketika jam kerjanya diperpanjang.
Hera : "Gua punya cowok baru sekarang tam, cowok gua yang ini baik..."
terakhir saya bertemu dengannya adalah dikosannya didaerah kuningan dan kami sama-sama menuju sebuah pernikahan teman. Dulu kami dekat, namun kini rupanya pekerjaan dan kesibukan sudah membuat dunianya masing-masing.
Ferry : "Tetep menurut gue film paling bagus itu adalah 2 fast 2 furious"
Quote yang menarik jika kamu bertanya masalah film dengan si Ferry. Terimakasih sudah boleh minta contoh tugas akhir Fer...
Kharisma : "Gue sekarang jadi guru mi, disebuah sekolah internasional"
Saya melihat keadaannya tepat kira-kira 2 tahun lalu, dia sudah baik-baik saja dan semoga dia tetap begitu. Terima kasih sudah pinjamin komputer dan kamar kamu agar saya bisa edit flash disana ketika komputer butut saya kena virus.
Inyo : "Apa kabar Tam? Gua dibandung"
Terakhir saya dengar dia bekerja disebuah distro yang cukup terkenal di Bandung. Yang paling saya ingat dari Inyo adalah quote yang luar biasa ketika melihat muda mudi sekarang memakai celana kedodoran hingga boxernya kelihatan dan memakai topi yang sengaja dimiringkan.
"Gua bayar lu ceban kalo ada yang lewat dan lu berani untuk benerin celana serta topinya sambil bilang 'pake baju yang bener!'"
Saya gak bisa lupa hal itu.
Adi : "Eh kamu yang suka fashion show di Chitos ya?"
Padahal saat itu dia pasti asal saja bilang begitu, saya sering gak mandi ke kampus hingga penampilan saya agak dekil.
Syarif : "Yaudah ambil tuh helm, bareng gua aja ke kampus"
Katanya ketika melihat saya menunggu bis dipinggir jalan dan menyarankan saya ambil helm dari motor orang yang parkir. Orang gila. Dan dia menikah tanpa mengundang saya minggu lalu dasar Syarif.
Tiwi : "tam-tam, temenin gua yah disini, jangan pulang dulu"
Sekarang tiwi sudah menikah dan mungkin sudah melahirkan.
Rio : "tam ada kerjaan buat gua?"
terkahir di ym.
Leo : "tam, ini tami kan?mi punya kenalan media gak?"
Telepon dari Leo masuk sekitar 2 minggu lalu, dia sedang mengerjakan project acara musik untuk event organizernya.
Noval : saya mengenal Noval sebagai orang yang bersemangat dan penuh konsep yang kadang-kadang rumit, namun Noval adalah Noval.
Emon : "Hati-hati tam..."
Itu katanya ketika dia menginjinkan saya nebeng motornya sampai UKI setelah pernikahan kawan lama kami, Ivan.
Yudha : Ah saya lupa kata-kata Yudha yang terakhir, saya cuma ingat suaranya yang berat.
Enrico : "Ayo kita bikin agama baru!!"
Begitu selalu kelakarnya, apa yang saya ingat dari Enrico? rambut keriting gondrongnya.
Zaki : Ada Enrico ada Zaki. Terakhir kami berbincang tentang teman kampus kami, bergosip seru.
Dika : "Gitu lu tam ya, nyela gua mulu, awas lu gua nanti jadi kaya, nanti lu suka sama gua!"
Dan saya jawab : "Mau lu kaya-nya sekarang kek gua juga gak suka sama lu"
Bercanda tentunya kami ini, sedang berkelakar...
Yonne : "Tamtam makan eskrim aja kalau mau gemuk, ini gua buktinya..."
Tito : Saya lupa kata-kata Tito, tapi dia senang sekali ganggu saya dengan menarik rambut kuncir kuda saya dulu. Oh, Tito, walau badannya tinggi besar dia suka musik yang lembut dan romantis.
Ah, siapa lagi yah, otak dalam kepala yang kecil ini mulai berasap berusaha mengingat meraih setiap tetesannya yang saya takutkan menghilang. Tidak ada orang yang mau dilupakan tentunya, bukan? Tentu, saya juga tidak. Lalu, teman-teman dimana kalian sekarang? Semoga kalian baik-baik saja. Malu mengatakannya, tapi saya rindu kalian.
Kamis, 23 September 2010
Up in the air
Saya pikir tadinya film ini akan menceritakan cinta lokasi, cinta segitiga dan semcamnya, tipikal film drama. Namun ternyata Up in The Air memberikan sesuatu yang lebih, bagi saya secara pribadi. Berikut sinopsis filmnya saya copy-paste semena-mena dari embah wiki.
Ryan Bingham (George Clooney) adalah orang yang bepergian ke berbagai tempat di seluruh dunia dan mengatur proses PHK atas nama bos-bos yang terlalu pengecut untuk melakukannya sendiri. Ryan menjalani kehidupan yang bebas, dia jarang mengunjungi keluarganya dan lebih suka hidup sendiri. Dalam perjalanannya, Dia bertemu Alex (Vera Farmiga) dan Natalie Keener (Anna Kendrick). Masuknya mereka berdua dalam kehidupannya membuatnya mempertanyakan kembali pandangan hidupnya.
Dan lalu saya tambahkan sendiri secara semena-mena pula, inilah dia,
Well, sebenarnya Ryan tidak begitu suka kehidupannya yang soliter maka itu dia protes besar-besaran ketika Natalie tiba-tiba datang menawarkan sebuah ide kepada kantornya untuk menghemat biaya perjalanan yang dikeluarkan perusahaan untuk mengirimkan agen-agennya dalam memecat orang yang mungkin berada di negara bagian lainnya, yaitu dengan menggunakan video call. Dan Ryan berhasil membuktikan bahwa metode tersebut tidak efektif dan selamat Mr Bingham! Dia pun bisa kembali 'jalan-jalan', menikmati fasilitas-fasilitas 'ekslusif' ketika dalam perjalanannya untuk memecat orang atau memberikan ceramah motivasi.
Dalam ceramah motivasi, ia selalu memasukkan gagasannya bahwa hidup soliter itu akan menjadikan pergerakan kita, sebagai manusia, lebih mudah. Karena kita tak perlu memikirkan hal yang berat-berat tentang keluarga, tentang kekasih, tentang anak, tentang binatang peliharaan, tentang rumah. Kasarnya jalanilah kehidupan bebas tanpa terikat pada sesuatu pun yang bisa membuat kita lemah. Hei, cinta bisa membuat menjadi orang lebih lemah lembut bukan? Itulah yang ditolak oleh Ryan Bingham. Ia menolak mencintai.
Ryan kemudian bertemu Alex, perempuan matang yang cantik dan seksi (menurut saya) ketika ia sedang bersantai di sebuah lounge hotel. Hei, kebetulan selalu mempertemukanmu dengan seseorang kadang-kadang. Alex, sama seperti Ryan, menjunjung kehidupan bebas tanpa terikat, namun ketika dirinya bertemu Natalie disebuah kesempatan, ia mengemukakan kata-kata yang membuat Ryan cukup menelan ludah yaitu pria impiannya adalah yang menyukai anak-anak.
Oke, kita bicara tentang Natalie dulu, semenjak idenya dibantah habis-habisan oleh Ryan, ia pun dijadikan asisten Ryan Bingham dan kemudian 'mengekor' Ryan kemana pun ia pergi (meski Ryan tadinya menolak). Natalie pindah ke kota ini karena sang pacar diterima bekerja pula disini. Saya bisa mengerti dirinya, macam saya yang juga mau pindah kota agar dekat dengan pacar saya. Lalu disinilah Natalie, mengekor Ryan dan menyaksikan orang-orang dipecat dan dihidupkan mimpi lainnya agar mereka tetap optimis dan tidak tenggelam dalam depresi dan bunuh diri, namun pada kenyataannya kejiwaan seseorang tidak bisa digeneralisasi.
Pada suatu waktu, sebuah kejadian menimpanya, Natalie diputuskan oleh pacarnya begitu saja melalui pesan instan. Menangis sesengukan, mengantarnya bertemu dengan Alex. Natalie mencoba melihat hubungan yang dijunjung dua orang ini, yaitu bebas dan tidak terikat. Ia tidak setuju sepenuhnya akan hal tersebut, tipikal anak muda, macam saya, banyak protes pada hal-hal yang dijunjung. Tapi hei, itu prinsip kan? (prinsip tai kucing hehehehe).
Ryan Bingham mengalami guncangan atas prinsip hidup yang selama ini dijunjungnya, tahu-tahu ada kerinduan berbagi kebahagiaan yang tadinya dia nikmati sendirian. Hal itu melahirkan keinginannya mempunyai pasangan, maka itu dengan segala resiko, meninggalkan ceramahnya, lalu ia menyusul Alex ke Chicago, dan voila! Ditemukanlah Alex dalam sebuah rumah penuh dengan anak-anak yang ramai dan yap! Seorang suami. Macam mendukung keadaaan hati Ryan Bingham, udara bersalju menyuruh orang-orang untuk berlindung dalam rumah dan disanalah Ryan Bingham, sendirian dalam hotelnya, entah apa yang ada dalam pikirannya, yang pasti ia sedih.
Kembali ke kantornya, ia mendapatkan berita yang cukup mengejutkan. Natalie mengundurkan diri dari kantor. Alex menelepon Ryan, mengutarakan bahwa si Bingham nyaris saja mengacaukan segalanya dengan kemunculannya yang mendadak. Secara personal, saya sangat menghormati ketika Ryan Bingham menutup teleponnya dan memutuskan tidak berkompromi lagi.
Memang film berakhir, namun yang saya pertanyakan apakah yang ada dalam benak Bingham sekarang? Apakah dia akan berpikir bahwa ternyata sebenarnya ceramahnya ada benarnya? Apakah sebenarnya dia seharusnya terus-terusan hidup soliter? Lalu saya pandang lagi diri saya ini, saya lama hidup secara individual. Namun menurut saya teman sangat penting dan yah, cinta dan sayang menghasilkan kegelisahan, ketakutan kehilangan dan semua itu yang membebani kita, apakah perlu kita masukkan dalam tas dan tenggelamkan di laut?
Saya pikir saya mau membawanya kemana-mana di punggung saya. Hei, itu pilihan kan??
Ryan Bingham (George Clooney) adalah orang yang bepergian ke berbagai tempat di seluruh dunia dan mengatur proses PHK atas nama bos-bos yang terlalu pengecut untuk melakukannya sendiri. Ryan menjalani kehidupan yang bebas, dia jarang mengunjungi keluarganya dan lebih suka hidup sendiri. Dalam perjalanannya, Dia bertemu Alex (Vera Farmiga) dan Natalie Keener (Anna Kendrick). Masuknya mereka berdua dalam kehidupannya membuatnya mempertanyakan kembali pandangan hidupnya.
Dan lalu saya tambahkan sendiri secara semena-mena pula, inilah dia,
Well, sebenarnya Ryan tidak begitu suka kehidupannya yang soliter maka itu dia protes besar-besaran ketika Natalie tiba-tiba datang menawarkan sebuah ide kepada kantornya untuk menghemat biaya perjalanan yang dikeluarkan perusahaan untuk mengirimkan agen-agennya dalam memecat orang yang mungkin berada di negara bagian lainnya, yaitu dengan menggunakan video call. Dan Ryan berhasil membuktikan bahwa metode tersebut tidak efektif dan selamat Mr Bingham! Dia pun bisa kembali 'jalan-jalan', menikmati fasilitas-fasilitas 'ekslusif' ketika dalam perjalanannya untuk memecat orang atau memberikan ceramah motivasi.
Dalam ceramah motivasi, ia selalu memasukkan gagasannya bahwa hidup soliter itu akan menjadikan pergerakan kita, sebagai manusia, lebih mudah. Karena kita tak perlu memikirkan hal yang berat-berat tentang keluarga, tentang kekasih, tentang anak, tentang binatang peliharaan, tentang rumah. Kasarnya jalanilah kehidupan bebas tanpa terikat pada sesuatu pun yang bisa membuat kita lemah. Hei, cinta bisa membuat menjadi orang lebih lemah lembut bukan? Itulah yang ditolak oleh Ryan Bingham. Ia menolak mencintai.
Ryan kemudian bertemu Alex, perempuan matang yang cantik dan seksi (menurut saya) ketika ia sedang bersantai di sebuah lounge hotel. Hei, kebetulan selalu mempertemukanmu dengan seseorang kadang-kadang. Alex, sama seperti Ryan, menjunjung kehidupan bebas tanpa terikat, namun ketika dirinya bertemu Natalie disebuah kesempatan, ia mengemukakan kata-kata yang membuat Ryan cukup menelan ludah yaitu pria impiannya adalah yang menyukai anak-anak.
Oke, kita bicara tentang Natalie dulu, semenjak idenya dibantah habis-habisan oleh Ryan, ia pun dijadikan asisten Ryan Bingham dan kemudian 'mengekor' Ryan kemana pun ia pergi (meski Ryan tadinya menolak). Natalie pindah ke kota ini karena sang pacar diterima bekerja pula disini. Saya bisa mengerti dirinya, macam saya yang juga mau pindah kota agar dekat dengan pacar saya. Lalu disinilah Natalie, mengekor Ryan dan menyaksikan orang-orang dipecat dan dihidupkan mimpi lainnya agar mereka tetap optimis dan tidak tenggelam dalam depresi dan bunuh diri, namun pada kenyataannya kejiwaan seseorang tidak bisa digeneralisasi.
Pada suatu waktu, sebuah kejadian menimpanya, Natalie diputuskan oleh pacarnya begitu saja melalui pesan instan. Menangis sesengukan, mengantarnya bertemu dengan Alex. Natalie mencoba melihat hubungan yang dijunjung dua orang ini, yaitu bebas dan tidak terikat. Ia tidak setuju sepenuhnya akan hal tersebut, tipikal anak muda, macam saya, banyak protes pada hal-hal yang dijunjung. Tapi hei, itu prinsip kan? (prinsip tai kucing hehehehe).
Ryan Bingham mengalami guncangan atas prinsip hidup yang selama ini dijunjungnya, tahu-tahu ada kerinduan berbagi kebahagiaan yang tadinya dia nikmati sendirian. Hal itu melahirkan keinginannya mempunyai pasangan, maka itu dengan segala resiko, meninggalkan ceramahnya, lalu ia menyusul Alex ke Chicago, dan voila! Ditemukanlah Alex dalam sebuah rumah penuh dengan anak-anak yang ramai dan yap! Seorang suami. Macam mendukung keadaaan hati Ryan Bingham, udara bersalju menyuruh orang-orang untuk berlindung dalam rumah dan disanalah Ryan Bingham, sendirian dalam hotelnya, entah apa yang ada dalam pikirannya, yang pasti ia sedih.
Kembali ke kantornya, ia mendapatkan berita yang cukup mengejutkan. Natalie mengundurkan diri dari kantor. Alex menelepon Ryan, mengutarakan bahwa si Bingham nyaris saja mengacaukan segalanya dengan kemunculannya yang mendadak. Secara personal, saya sangat menghormati ketika Ryan Bingham menutup teleponnya dan memutuskan tidak berkompromi lagi.
Memang film berakhir, namun yang saya pertanyakan apakah yang ada dalam benak Bingham sekarang? Apakah dia akan berpikir bahwa ternyata sebenarnya ceramahnya ada benarnya? Apakah sebenarnya dia seharusnya terus-terusan hidup soliter? Lalu saya pandang lagi diri saya ini, saya lama hidup secara individual. Namun menurut saya teman sangat penting dan yah, cinta dan sayang menghasilkan kegelisahan, ketakutan kehilangan dan semua itu yang membebani kita, apakah perlu kita masukkan dalam tas dan tenggelamkan di laut?
Saya pikir saya mau membawanya kemana-mana di punggung saya. Hei, itu pilihan kan??
Jumat, 03 September 2010
Dingin
Dingin,
Tetes tetes air kala hujan, angin yang menderu,
tiupannya membuat kedua tangan bersedekap,
namun dua tangan tak dapat melindungi rusuk
yang ditusuk-tusuk oleh hawa...
Dingin,
Merasuk, menambah kosong menjadi nyata
Harusnya kita berlari-lari agar tidak kena
hypothermia
Namun aku hanya disana, merasakan air sedikit
demi sedikit menenggelamkan paru-paru
Dingin,
Rasanya jantung ini sedikit lagi pecah,
berhamburan isinya, bercucuran asanya,
kemana-mana, ke jalan-jalan,
berteriak-teriak ia membantah kebisuan
mengaum di lorong-lorong yang biasa kau lalui
Dingin,
Air akhirnya keluar dari segala penjuru,
lubang hidung, lubang telinga, mulut,
dan lubang mata.
Alirannya tidak sederas beberapa waktu lalu,
Namun penyebabnya tetap sama,
Segala sesuatu yang tersumbat menyebabkan banjir
Dingin...
Tetes tetes air kala hujan, angin yang menderu,
tiupannya membuat kedua tangan bersedekap,
namun dua tangan tak dapat melindungi rusuk
yang ditusuk-tusuk oleh hawa...
Dingin,
Merasuk, menambah kosong menjadi nyata
Harusnya kita berlari-lari agar tidak kena
hypothermia
Namun aku hanya disana, merasakan air sedikit
demi sedikit menenggelamkan paru-paru
Dingin,
Rasanya jantung ini sedikit lagi pecah,
berhamburan isinya, bercucuran asanya,
kemana-mana, ke jalan-jalan,
berteriak-teriak ia membantah kebisuan
mengaum di lorong-lorong yang biasa kau lalui
Dingin,
Air akhirnya keluar dari segala penjuru,
lubang hidung, lubang telinga, mulut,
dan lubang mata.
Alirannya tidak sederas beberapa waktu lalu,
Namun penyebabnya tetap sama,
Segala sesuatu yang tersumbat menyebabkan banjir
Dingin...
Senin, 02 Agustus 2010
Banjarmasin

Setelah cerita horor itu, cerita horor nan lucu, kami semua terbang menuju Kalimantan. Yang ada dalam benak saya hanyalah, andaikan saya punya satu hari kosong disana, tolong bawa saya ke karantina orang utan.
Pagi ini saya dijemput oleh taksi. Saya bawa Narji, seperti biasa di tiap-tiap kota. Dia dengan setia bawakan semua barang-barang saya. Ayo Narji...masih ada empat kota lagi yang harus kita tempuh setelah ini!!
Butuh waktu sekitar satu jam empat puluh menit untuk sampai ke Banjarmasin. Pesawat mengudara begitu lama sementara itu kami diberi makan oleh pramugari-pramugari cantik yang selalu segar dengan pulasan make up beserta sanggul yang rapih.
Hari ini pesawatnya cukup canggih karena kita bisa nonton film tepat di depan bangku yang masing-masing tersedia layar LCD sebesar kira-kira 8 inchi dengan teknologi touchscreen. Pada awalnya saya antusias karena ada sajian film Korea, banyak film dari negara tersebut yang cukup membangkitkan inspirasi, namun sayang hal itu tidak saya temukan ketika 10 menit film diputar.
Saya mengalihkan menu menjadi paparan musik. Diantara sekian banyak genre, saya memilih kings of convenience yang cukup syahdu. Lalu berganti menjadi Jason Mraz yang saya ingat dia pertama kali muncul dengan Remedy-nya saat saya masih duduk di kelas satu SMA. Wah, sudah lama, kira-kira enam sampai tujuh tahun yang lalu. Hei, ternyata saya sudah tua. Namun mengapa saya merasa seperti terus-terusan di Neverland?
Tiba-tiba musik yang saya dengarkan berhenti, pilot mengumumkan bahwa kami akan mendarat sebentar lagi. Saya selalu bergairah jika pesawat bersiap terbang ke udara atau bersiap mendarat, seperti menyambut kematian yang bisa saja datang tiba-tiba. Menerima, dengan ikhlas.
Pesawat kami mendarat dengan mulus, hingga kami tidak cacat sedikitpun. Bandara di luar kota selalu sederhana dan tidak semewah Soekarno-Hatta, saya suka. Semua orang melirik pada kami, apalagi kalau bukan rambut yang agak nyentrik ini? Kami menunggu mobil jemputan untuk langsung menuju hotel untuk menaruh semua barang-barang yang kami bawa. Ketika pintu kamar dibuka, ada bau aneh yang menguar, aneh sekali hingga beberapa dari kami sakit kepala. Saya putuskan untuk menyalakan pendingin ruangan sembari membuka jendela agar ada pertukaran udara. Semoga.
Di kota ini, satu kamar kami tidur bertiga, okelah tidak apa-apa, saya dibagian ekstra bed. Masih empuk kok walau cuma selembar. Narji cukup diam di pojok, dia selalu begitu, pasrah saja jika saya suruh tidur di lantai terlalu sempit jika kami harus berbagi ranjang.
Hari ini Noni sakit flu, ingusnya turun naik mungkin karena sistem imunnya menurun. Sementara saya rasanya menderita pusing mendadak. Mungkin karena bau cat yang lapuk atau entahlah apa yang membuat migrain saya kambuh. Beberapa lama setelah istirahat sebentar, kami naik ke lantai lima untuk gladi resik. Blocking seperti biasa. Pemandangan kebingungan dan omelan makin biasa bagi kami. Saya takut saya jadi beku hati gara-gara ini. Tidak. Jangan. Cinta membuat saya hidup, tolong jangan tinggalkan saya.
Selesai blocking dan pengulangan koreografi, kami makan malam di restoran hotel, bosan sekali sebenarnya melakukan rutinitas ini, namun berjalan-jalan keluar sendirian dikota ini pun desas-desusnya kurang nyaman dan aman.
Lonceng gereja berdentangan tiap satu jam sekali, mungkin sudah disetel otomatis untuk bergema karena ketika saya melongok gereja nampak sangat sepi. Namun saya selalu menyesali kepengecutan yang saya punya karena menahan saya untuk lompat menyebrang menuju gereja dan melihat apa yang bisa saya amati dari sana. Saya menyesali sisi saya yang seperti itu, mungkin begitu juga Narji menertawakan saya. Diam kamu Narji!
Setelah tahu pesawat baru akan membawa saya lusa, impian saya mengambang, mungkinkah saya dapat melongok hutan orang pada hutan lindung? Saya bertanya pada supir mobil yang menjemput kami, dengan kecewa saya harus meneriman kenyataan bahwa hutan karantina tersebut harus ditempuh dua jam perjalanan dari kota Banjarmasin. Sudah pasti saya tidak dapat berkunjung ke sana. Hasrat ini begitu menggebu-gebu sehingga akhirnya saya harus kecewa melihat kenyataan. Harusnya saya hidup dalam mimpi saja.
Sudahlah jangan kecewa, saya bilang pada diri saya sendiri, karena saya lahir untuk bersabar. Malam ini harusnya saya tidur dengan nyenyak, namun ternyata ada beberapa suara gaduh serta lonceng gereja secara samar-samar menganggu kenikmatan tidur. Hingga tahu-tahu hari sudah pagi. Sudah waktunya bangun. Saya mengirimkan beberapa pesan pada teman-teman saya di Jakarta, mengadu pada mereka bahwa saya harus bangun pukul empat pagi untuk melakukan make up.
”Tadi malem gue kok kayak denger suara orang lagi begituan ya...” kata teman sekamar saya.
”Wah mimpi kali lu...mimpi dan pengen, hahahaha...” begitu kata saya sambil tertawa.
Menunggu show dimulai, kami duduk di belakang panggung, saling bertukar cerita. Tersebutlah hotel ini ternyata adalah sebuah hotel short time, tempat prostitusi dilakukan. Pantas saja semenjak kemarin kenapa lelaki yang ’nongkrong’ di lobby memandang kami ini bagai mangsa. Untunglah saya mirip bencong. Ya Narji? Maka selamatlah saya dari hawa nafsu angkara murka. Eh? Belum tentukah? Betul, saya terlalu yakin.
Saya pun merasa bukan wanita yang menarik, tidak seperti Noni yang muka campuran Arabnya membuatnya menjadi sangat cantik, lalu Niken dengan kulitnya yang sangat cantik, membuatnya selalu terlihat segar. Sementara saya kurus kering kerontang. Teman sekantor saya pun bercemooh,
”Siapa yang mau dengan dia? Kurus kering dada rata.”, jika didengar secara sepintas
kata-kata ini akan berbentuk seperti pisau dan menyakitkan, membelah-belah hati orang yang ditujukan. Namun jika kamu lihat lagi, potong-potong lagi, kata tersebut berasal dari mulut orang yang patut dikasihani, karena mengira manusia hanya satu tipe, sesuai dengan pikirannya, kasihan dia sudah empat puluh tahun hidup di dunia namun tidak mengerti arti cinta, yang dia mengerti hanya nafsu. Kasihanilah dia dunia.
Show hari ini berjalan seperti biasa, setelahnya yang tidak biasa. Noni, selain sebagai model ’petite’ dia adalah seorang desainer pakaian. Setelah show berakhir, ia meminta saya menjadi model baju-baju yang sudah ia bawa. Tentu, saya dengan sukarela akan sangat senang membantunya. Wow, saya tidak menyangka (setelah melihat hasil fotonya) kulit saya kini berubah menjadi begitu eksotis. Coklat. Eksotis. Tadinya saya tidak percaya ketika hairstylist saya diatas panggung menyebut ”ini Tami, model saya yang eksotis”, ternyata dia benar.
Entah kapan itu ketika saya menjadi salah satu remaja yang juga mengidamkan kulit putih, karena seakan-akan hal itu lebih menarik dari pada kulit saya sendiri. Namun kini, saya lebih suka menjadi apa adanya. Karena lebih baik kamu dibenci dengan menjadi apa adanya dibanding kamu disukai namun itu bukan kamu. Saya membela mati-matian orang yang benci saya karena apa adanya.
Diluar saya lihat beberapa orang berbondong-bondong mengangkat spanduk meneriakkan ”Allahuakbar!” mereka berdemonstrasi dengan melakukan long march yang kebetulan melewati hotel yang saya tempati, memprotes bahwa penyerangan Israel pada kapal untuk bantuan kemanusiaan pada Palestina yang saat itu masih diberitakan dengan hangat. Mereka menuntut keadilan, bahwa Israel harus dihukum atas ulahnya ini. Berita semakin meruncing ketika ada beberapa relawan yang di duga diracuni oleh tentara Israel. Miris saya mendengarnya, ada apa dengan manusia saat ini? Lalu seperti kamu tahu, berita itu kini tenggelam dengan kasus Ariel Peter Pan beserta ke 32 video pornonya.
Hari masih panjang sebelum pesawat pagi memulangkan kami beserta semua kenangan akan Banjarmasin dan kembali ke Jakarta yang sibuk. Maka kami pun menuju Marthapura, saya ikut saja, katanya itu tempat membeli permata. Bah, permata, uang darimana? Menyusuri toko tanpa tahu apa musti saya beli, akhirnya saya mampir juga ke salah satu untuk membeli oleh-oleh untuk teman-teman yang baik, sebuah gantungan kunci mungkin? Ya itu sajalah, menipisnya kantong membuat saya harus memilah oleh-oleh.
Hari tiba-tiba saja menjadi malam setelah kami berbelanja, hujan turun rintik-rintik. Berada di tengah-tengah khatulistiwa dengan iklim hutan hujan, membuat saya memaklumi keadaan ini. Kalimantan memang masih hutan. Dan karena itulah saya terpuaskan. Lagi-lagi, kewarasan masih saja menahan saya untuk mendekati sungai serta memperhatikan kapal-kapal nelayan yang tertambat disana atau lebih jauh lagi naik ke atas kapal dan mungkin jika beruntung diantar keliling sungai ditengah kota. Kewarasan saya menahan semua itu, maka dari itu saya seringkali tidak puas terhadap diri sendiri. Mengapa saya dulu di dogma untuk mengikuti aturan sih?
Hari berangsur malam, saya harus tidur karena besok pukul lima pagi mobil kami sudah menunggu untuk mengantar semua kru ke Bandara. Haaah...selesai sudah Banjarmasin, kota sepi dengan kesempatan saya yang sedikit untuk mengenal kehidupannya. Maka itu tinggallah kenangan saya yang sedikit ini, tinggallah lonceng bunyi gereja, tinggallah hutan-hutan sepanjang perjalanan menuju Marthapura. Tinggallah dalam memori saya ini.
Selasa, 06 Juli 2010
Ikan Sapu Sapu di Tanah Kering

Pagi itu, tumben. Tumben saya datang ke kantor jam 09.30 WIB (Waktu Indonesia dan Bekasi, hehehe). Meninggalkan kamar kos-kosan saya yang masih 'awut-awutan' karena kemalasan dan keacuhan saya akan kesehatan dan kerapihan. Biasanya saya langsung belok kiri masuk ke kantor yang lantai dasarnya jadi gudang susu, tapi kali ini saya berjalan lurus ke depan menuju warung nasi uduk yang biasanya nangkring di dekat kali. Tapi ternyata hari ini dia tidak ada, kemana si eceu itu? Seorang pedagang asongan memberi tahu saya untuk melihat di sebuah tanah lapang tidak berpenghuni yang dibatasi pagar. Tanah lapang tersebut terletak di belakang ruko tempat ruko-ruko tersebut berdiri. Sebenarnya tanah tersebut tidak sebenar-benarnya kosong karena ada bangunan yang terbuat dari tumpukan seng beserta MCK yang sangat kumuh, namun selebihnya tanah ini ditumbuhi ilalang liar yang mengurangi kegersangannya.
Saya membeli sebungkus nasi uduk seperti biasa. Lalu sebelum menuju kembali ke kantor, saya melihat untaian sungai berbusa yang lewat begitu saja di depan saya dan tiba-tiba saja saya berpikir, mungkin hal ini pula yang membuat saya membeli kamera digital. Harus ada tujuan yang bermacam-macam terhadap kamera itu, karena saya nyaris saja menjualnya kembali dengan harga yang dibanting sebab kehilangan pentingnya tujuan awal ketika membelinya.
Sungai dan busa yang lewat lalu jadi beku dalam LCD kamera digital saya. Saya berjalan sebentar, lalu menemukan hal yang janggal. Ada dua ekor ikan bertebaran di jalan yang gersang, tergeletak begitu saja tak berdaya, tak bergerak. Astaga, apa yang terjadi? Mungkinkah mereka keracunan sungai berbusa ini? Atas pertanyaan-pertanyaan dalam kepala saya tersebut maka saya bertanya.

“Pak, kenapa ikan ini berada disini”, saya bertanya pada dua orang yang duduk dibawah pohon yang cukup rindang dan memperhatikan saya dalam diam.
“Itu ikan sapu-sapu neng”, jawab si Bapak.
”Lalu kenapa mereka ada di sini Pak?”, tanya saya.
”Dibuang tuh sama yang mencari ikan di situ...”, lalu mereka menunjuk orang yang sedang menjaring ikan dengan pintu air.
”Oh kalo ikan sapu-sapu enggak bisa dimakan ya Pak?” tanya saya
”Enggak...”, jawab mereka santai sambil mengepulkan asap rokok.
Lalu jika ikan sapu-sapu tidak bisa dimakan, apa sulitnya mengembalikan mereka ke air lagi? Mengapa melempar mereka ke daratan yang sudah pasti membuat mereka mati perlahan? Saya kemudian memegang ekor si ikan sapu-sapu yang terkecil lebih dahulu, badannya sudah kaku, namun insangnya masih sedikit bergerak, saya pikir bahwa saya mungkin saja terlambat menyelamatkannya, namun lebih baik menceburkannya ke air, kadang alam punya caranya sendiri dalam menghidupi atau mematikan.
Beralih ke ikan sapu-sapu yang lebih besar, membuat saya berpikir bahwa mereka ini adalah Ibu dan Anak. Insangnya masih bergerak lebih cepat dari yang kecil, saya gembira, karena mungkin saja kesempatan hidupnya jadi lebih lama. Ironis, saya pernah ingin menceburkan diri ke laut untuk mengakhiri hidup, sementara saya disini selamatkan kamu ikan. Karena saya yakin binatang jauh lebih kuat daripada manusia. Mereka tidak pernah menyerah untuk bertahan hidup. Karena menurut saya dunia manusia terlalu rumit, terlalu banyak tipu muslihat, terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak pencari pembenaran, terlalu banyak...
”Terimakasih sudah menyelamatkan ikan itu ya...muach...” smsnya manis.
”Hmm kenapa terima kasih?” tanya saya.
”Kan aku jelmaan ikan itu, hihihihi...”
Andai saja memori itu layaknya memori dalam handphone, di mana penyimpanan nomor panggilan keluarnya akan terhapus secara otomatis ketika sudah mencapai jumlah tertentu. Saya dapat menghapus memori yang menyakitkan, sehingga rasanya saya tidak perlu merasa bersalah jika melihat binatang dan manusia terlantar...
Langganan:
Postingan (Atom)